Selasa, 14 Oktober 2008

MINDER

   Bu Y@s@ (ka ndadak nganggo Bu, ya? Dadi krasa tua!!!) bilang NEM 23 ?? Ha..ha..aku aja 31 dan itu juga bisa masuk SMP Teladan se Jawa Tengah. (“Bangga” mbok!!!)…dan kebanggan itu harus ditebus dengan “rasa minder” selama 3 tahun, karena dipaksakan bagaimanapun, nilai akademik ga bisa lebih dari 6 yang akhirnya mengantarku ke sebuah SMA swasta.
   Rasa tertekan karena selalu kesulitan menangkap materi, persaingan nilai yang begitu ketat (over malah), gaya hidup yang…”alhamdulillah” kaya selebriti…makin membuat rasa minderku menggunung. Dan mau ngga mau…kepribadianku terbentuk sebagian dari rasa minder.
   Bisa dibayangkan…apa sih yang bisa didapatkan seorang yang minder, tertekan, selalu kusut…ketika harus bersekolah? Ngga ada…ngga ada yang didapatkan. Disuruh nanya…takut. Ditanya…tambah takut. Kalo mengerjakan PR..salah semua. Nyontek teman…jadi ngga mengerti latar belakang jawabannya. Serba salah jadinya.
   Namun…itulah perjalanan hidup, dimana tiap manusia berada pada tempat &waktu yang “pas” sesuai dengan takdir masing-masing. Semua keadaan, bagaimanapun adalah “pelajaran hidup”.(nyitir kata milik AS). Kalo SMP dulu adalah tempat belajar yang kecil, tapi kehidupan adalah wahana belajar yang lebih luas &sesungguhnya…(menurutku lho)
Dan…ketika beban-beban masa sekolah telah berlalu, ketika saya dihadapkan dengan kenyataan hidup yang sesungguhnya, ternyata…sebagian perasaan tertekan itu masih ada, seperti Fosil, meski tlah berubah kondisi namun masih membawa sifat & materi aslinya.
   Nah…mungkin ceritaku jadi terlalu pribadi kalo dilanjutkan. Dari cerita diatas, harapanku yang tumbuh dari pengalaman pahitku sendiri yaitu agar rekan-rekan yang sudah ketalang jadi Bapak/ Ibu Guru. Tolong, kalo bisa (memohon niiiih) ikut perhatiin “aku-aku” lain yang sekarang berada dalam genggaman tanggungjawab kalian.
   
“Sungguh berat membawa beban itu ketika masih harus berkutat dengan pertumbuhan nalar, akal dan kedewasaan”
Makasih,
Salam untuk semua.

Anonymus,
Spt yg dituturkan kpd “Komunitas88”

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Eh...mas,mbak Anonymus,kalo msh membeban rasa itu,datang ketempatku aza...dijamin rasa minder itu berubah jadi Pe De abiz...Yakin !

Anonim mengatakan...

ya Allah bukakan hati dan pikiran saudara ku ini...jadi kan lah dia seorang yang senantiasa mensyukuri hidup dan senantiasa berusaha mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat..Jauhkanlah sifat minder nya..Dan berkahilah dia dengan rahmat , anugrah, rejeki dan kesehatan jasmani rohani...
ya Allah kabulkan lah doa permohonan hamba Mu ini...Amien

Anonim mengatakan...

dah baca tulisan anti..???

jangkrik ngerik mengatakan...

dari jebolan taun 1988 mengatakan:
lain syakartum lazi danakum, wala in kafartum inmna azabi lasyadid.

salah tulisan, ya memper wong dudu santri.