“Tolong ya kamu aja yang serahkan ke tata usaha, aku belum bikin PR, mau kan? trims ya!” Sepenggal kalimat di potongan kertas kecil diselipkan diantara buku catatan kumpulan uang teman-teman satu kelas, kebetulan di kelas ada tiga siswa yang ditunjuk dalam kepengurusan kelas, ada yang jadi bendahara OSIS bertugas mengumpulkan uang teman satu kelas untuk pos OSIS, ada bendahara SPP untuk pos SPP dan bendahara BP3 untuk pos BP3 dikelas itu.
Ditengah kesibukan belajar siswa, mulai juga diperkenalkan berorganisasi mini di dalam kelas. Begitulah rutinitas tiap awal bulan sampai menjelang tengah bulan kami bertiga membantu mengelola keuangan kelas untuk akhirnya di sentralisir di bagian tata usaha. Sepotong kertas tadi buru-buru kubaca dengan penuh hikmat sambil dalam hati berkata “Jangankan sekedar menyetorkan ke tata usaha aku merangkap tugasmu pun dengan senang hati akan kulakukan.” ada terbersit dihatiku betapa sepenggal kalimat dalam sepotong kertas tersebut sangat berarti, setiap kali membaca potongan itu serasa wajah cantik yang memang kudamba seperti tengah memintaku untuk melakukan sesuatu, oh betapa indahnya aku ternyata tengah jatuh cinta pada teman bendahara kelasku ini.
Tatapan matanya, gerak bibirnya ketika bertutur terasa begitu indah bahkan sangat indah. Pernah aku berpikir apakah karena dia “beda” dengan teman kebanyakan karena dia memang susah bertutur seperti bahasa teman-teman kebanyakan. Ah aku gak tahu, tapi kian hari kian menjadi kecamuk rasa di dalam dadaku padanya. Sampai pada bulan berikutnya tidak selalu namun sering, dia kembali memintaku untuk membantu tugasnya sebagai bendahara dan kembali penggalan kata dalam potongan kertas semacam menjadi surat perintah dari sang puteri untuk di laksanakan.
Kini puluhan tahun kemudian, penggalan-penggalan kata dalam potongan kertas itu tinggal setumpuk kenangan yang masih tersimpan rapi di dalam sanubari, yang senantiasa mengingatkan debaran-debaran hati dan getaran-getaran kalbu, ternyata detil-detil kejadian itu masih saja terekam nyata dan sangat relief. Semua memang telah berubah, sangat berubah bukan hanya secara fisik namun juga semuanya, yang tidak berubah hanya dia yang tetap hanya bisa kudamba tidak lebih. Saat itu terasa begitu indah bagiku, mungkin saja tidak bagi dia, aku tak peduli itu. Kini puluhan tahun telah berlalu, semua sudah terlewati namun penggalan kalimat dalam potongan kertas itu semakin indah untuk dikenangkan, Setidaknya aku bersyukur aku bis merasakan rasa itu karena tidak semua orang bisa merasakannya, merasakan indahnya cinta.
Fragmen ini kupersembahkan untuk Kelas 3C kom88.(bowo)
Kini puluhan tahun kemudian, penggalan-penggalan kata dalam potongan kertas itu tinggal setumpuk kenangan yang masih tersimpan rapi di dalam sanubari, yang senantiasa mengingatkan debaran-debaran hati dan getaran-getaran kalbu, ternyata detil-detil kejadian itu masih saja terekam nyata dan sangat relief. Semua memang telah berubah, sangat berubah bukan hanya secara fisik namun juga semuanya, yang tidak berubah hanya dia yang tetap hanya bisa kudamba tidak lebih. Saat itu terasa begitu indah bagiku, mungkin saja tidak bagi dia, aku tak peduli itu. Kini puluhan tahun telah berlalu, semua sudah terlewati namun penggalan kalimat dalam potongan kertas itu semakin indah untuk dikenangkan, Setidaknya aku bersyukur aku bis merasakan rasa itu karena tidak semua orang bisa merasakannya, merasakan indahnya cinta.
Fragmen ini kupersembahkan untuk Kelas 3C kom88.(bowo)
3 komentar:
Pancen bowo mandan....
padha karo nyong wok....termehek-mehek karena virus cimon....gak kukuku....23 th yang kulalui terasa lebih indah dan tak ada penyasalan....makasih disc brake'e.......hehehe
Termehek-mehek terus..... Asal gak kebablasan ngelamun melulu tiap hari. (tuti)
Posting Komentar